Forum Ukhuwah UNM

Ajang untuk saling berbagi ilmu, taushiyah, curhat dan info masyarakat UNM makassar
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Radio Sunnah

Latest topics
» RAHASIA MUDAHNYA MENDAPATKAN MODAL UNTUK USAHA ATAU UNTUK BIAYA HIDUP
Mon Jul 15, 2013 5:09 pm by millantea

» надо похудеть на 15кг за 20дней
Thu Aug 04, 2011 9:04 pm by Tamu

» best fish oils supplements
Thu Aug 04, 2011 2:50 pm by Tamu

» Alabama Dept. of Public Health Proposes Civil Penalty Against Company For Failing To Properly Maintain Security, Accountability Of Radioactive Sources
Thu Aug 04, 2011 1:49 pm by Tamu

» Effects Of Ekg On Caffeine
Wed Aug 03, 2011 8:33 pm by Tamu

» generic name for ultram er
Wed Aug 03, 2011 4:30 pm by Tamu

» australia online casinos
Tue Aug 02, 2011 11:30 pm by Tamu

» sundown naturals fish oil
Tue Aug 02, 2011 10:37 pm by Tamu

» hotele polska 5 gwiazdek
Tue Aug 02, 2011 2:32 pm by Tamu

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 21 pada Sat Feb 05, 2011 7:12 am
Top posters
Admin
 
al_ghariby
 
erkawe
 
ikhwan_unm
 
ullahsultan
 
akhjafar
 
Salsabilah
 
abu uwais
 
najah
 
ibnu yahya
 
Kalender Hijriah
google salaf

Share | 
 

 Quo Vadis, where are you going ?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
m4il
Pemula
Pemula


Jumlah posting : 3
Registration date : 16.01.09

PostSubyek: Quo Vadis, where are you going ?   Fri Jan 16, 2009 7:09 pm

Agama kita ini disebut juga agama Ibrahim. Rasulullah sering menyebut agama Islam ini adalah Millah Ibrahim, semuanya tradisi yang kita miliki meniru tradisi Ibrahimiyah, hanya sedikit modifikasi untuk dinyatakan Islam yang kita peluk ini sebagai agama yang sempurna, sebagai pelengkap ajaran Ibrahim. Rangkaian ibadah haji misalnya, tata caranya seluruhnya mengikuti tradisi nabi Ibrahim as. Oleh karena itu dalam shalat, kita tegaskan hubungan kita dengan nabi Ibrahim as, kita membaca, Allahummah shalli ‘ala Muhammad wala alihi Muhammad kama shallaita ‘ala Ibrahim wala alihi Ibrahim.

Salah satu tradisi Nabi Ibrahim as lainnya adalah perjalanan menuju Allah SWT. Mengutip kaum eksistensialis, kita terlempar di dunia ini tanpa kita rencanakan sebelumnya. Kita begitu saja tiba-tiba berada di sini. Heidegger menyebutnya Dasein (jika dipecah artinya Da Sein, ada di sana). Setelah berada di sana, kita diberi kebebasan untuk menentukan diri mau kemana. Tradisi Ibrahim adalah menuju Allah, as-sayr ilallah. Dalam Al-Qur’an ada pertanyaan yang singkat namun menyentak, “fa aina tadzhabun ?”. Tuhan bertanya kepada kita semua, “Kalian ini mau kemana ?” . Quo Vadis, where are you going ?. Nabi Ibrahim as memberi jawaban yang bagus, “Inna dzahibun ila rabbi sayahdin” artinya, “Aku sedang menuju Tuhanku, pastilah Dia memberi petunjuk padaku” (Qs. As-Shaffat : 99).

Perjalanan menuju Tuhan ini disebut sayr atau suluk, dan dalam menempuh perjalanan ini kita akan menempuh beberapa stasiun. Imam Khomeini menyebut perjalanan menuju Tuhan sebagai Mi’raj Ruhani dan menurut beliau hanya empat saja stasiun saja yang akan kita lewati. Untuk selanjutnya stasiun ini kita sebut maqam. Keempat maqam yang disebut Imam Khomeini, secara berurutan adalah ilmu, khusyuk, tuma’ninah dan mukasyafah. Maqam pertama yang akan kita lewati adalah ilmu. Dalam perjalanan menuju Allah banyak hal yang tidak kita pahami dan ketahui. Karenanya seorang salik (seorang yang menuju Allah) harus membekali diri dulu dengan ilmu.

Ilmu ini barulah stasiun pertama, justru langkah awal untuk menuju stasiun berikutnya. Namun kebanyakan kita mendapatkan ilmu sebagai penghalang untuk menuju stasiun berikutnya. Mengapa ?. Karena kita lebih senang membincangkan ilmu. Perbincangan kita menjadi bahan perdebatan kita. Ketika memiliki ilmu tentang Tuhan misalnya, seakan-akan kita telah bertemu Tuhan. Seakan-akan kita telah sampai di ujung perjalanan, sehingga kita lebih sibuk membincangkannya dari pada mengamalkan apa yang semestinya.

Setelah berada pada stasiun ilmu, sekarang kita melanjutkan perjalanan menuju stasiun berikutnya, yakni maqam khusyuk. Maqam ini tidak mudah untuk menempuhnya, kita akan mengalami puncak kerinduan yang sangat tinggi kepada Allah. Hati kita akan dilanda keresahan yang sangat, akan mengalami goncangan-goncangan batin yang luar biasa. Kita menyebut situasi ini sebagai keresahan spiritual, orang Spanyol menyebutnya, la noche oscura, malam jiwa yang gelap. Setelah berhasil melewatinya, tibalah kita pada maqam berikutnya, yakni tuma’ninah, ketentraman hati. Bagi yang telah mencapai maqam ini, maka ia akan disapa Tuhan untuk menghadap kepada-Nya sekarang juga. “Wahai jiwa yang sudah tentram (muthmainnah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu, Tuhanmu itu ridha kepadamu dan kamu juga ridha kepada-Nya.” (Qs. Al-Fajr : 28-29). Kalau sudah sampai disitu, kita harus terus naik menuju puncak perjalanan yakni mukasyafah, yakni bertemu dengan Allah SWT.

Sudahkah Kita Bertemu Allah SWT ?

Jangan serta merta menyangka bahwa pertemuan dengan Allah SWT berarti kita tidak berada lagi di dunia ini, dalam arti kita telah meninggalkan dunia ini. Kita bisa bertemu dengan Allah sekarang dan disini. Selagi kita masih hidup. Imam Ali as, ketika ditanya, apakah Tuhan bisa dilihat atau tidak. Imam Ali as menjawab singkat, “Mustahil saya menyembah Tuhan yang tidak bisa saya lihat ?”. Allah pun menyebut, Dia bahkan lebih dekat dari urat nadi leher kita. Tapi apakah kita menyadari keberadaan-Nya ?. Allah menyebut dalam Al-Qur’an, “Kemanapun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah.” (Qs. Al-Baqarah : 115). Sekarang ketika kita menghadap ke arah manapun kita suka. Apa yang kita lihat ? Allah kah? atau selain-Nya. Kalau yang kita lihat bukan Allah, apa berarti apa yang disampaikan Al-Qur’an itu yang salah ?. Mestinya menurut Al-Qur’an, kemanapun yang kita lihat, yang ada hanya Dia, yang tampak seharusnya wajah Allah. Bukan Al-Qur’an yang salah. Kita yang belum mengenal wajah Tuhan sehingga apapun yang kita lihat, kita tidak mengenalnya sebagai wajah Tuhan. Kita belum bertemu dengan-Nya, karenanya kita belum mengenal seperti apa Dia. Kita belum menempuh perjalanan menuju-Nya. “Wahai manusia, sesungguhnya kamu jika telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.” (Qs. Al-Insyiqaq : 6). Atau bisa jadi, perjalanan kita justru bukan menuju-Nya, malah menjauh dari-Nya. Karenanya Dia dengan kasih sayang bertanya, “Hai, mau kemana kalian ?”.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
erkawe
Pemula
Pemula


Male Jumlah posting : 39
Registration date : 28.01.09

PostSubyek: Re: Quo Vadis, where are you going ?   Wed Jan 28, 2009 11:56 pm

ini ya akhi yang lagi kuliah di khum sekarang? tambah dalam aja tsaqofahnya... antm bisa berbagi banyak nih
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Quo Vadis, where are you going ?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Ukhuwah UNM :: Ad-Dienul Islam :: Aqidah-
Navigasi: