Forum Ukhuwah UNM

Ajang untuk saling berbagi ilmu, taushiyah, curhat dan info masyarakat UNM makassar
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Radio Sunnah

Latest topics
» RAHASIA MUDAHNYA MENDAPATKAN MODAL UNTUK USAHA ATAU UNTUK BIAYA HIDUP
Mon Jul 15, 2013 5:09 pm by millantea

» надо похудеть на 15кг за 20дней
Thu Aug 04, 2011 9:04 pm by Tamu

» best fish oils supplements
Thu Aug 04, 2011 2:50 pm by Tamu

» Alabama Dept. of Public Health Proposes Civil Penalty Against Company For Failing To Properly Maintain Security, Accountability Of Radioactive Sources
Thu Aug 04, 2011 1:49 pm by Tamu

» Effects Of Ekg On Caffeine
Wed Aug 03, 2011 8:33 pm by Tamu

» generic name for ultram er
Wed Aug 03, 2011 4:30 pm by Tamu

» australia online casinos
Tue Aug 02, 2011 11:30 pm by Tamu

» sundown naturals fish oil
Tue Aug 02, 2011 10:37 pm by Tamu

» hotele polska 5 gwiazdek
Tue Aug 02, 2011 2:32 pm by Tamu

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 21 pada Sat Feb 05, 2011 7:12 am
Top posters
Admin
 
al_ghariby
 
erkawe
 
ikhwan_unm
 
ullahsultan
 
akhjafar
 
Salsabilah
 
abu uwais
 
najah
 
ibnu yahya
 
Kalender Hijriah
google salaf

Share | 
 

 SEPUTAR QUNUT NAZILAH I

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 73
Registration date : 13.01.09

PostSubyek: SEPUTAR QUNUT NAZILAH I   Fri Jan 16, 2009 9:53 pm

Peristiwa pembantaian dan penyerangan muslim Palestina di jalur Gaza oleh bangsa Yahudi terlaknat telah memasuki hari ke-13 (Jum’at, 9 Januari 2009). Tidak kurang dari 750 orang telah meninggal dunia, dan sebagian besarnya adalah anak-anak dan kaum wanita. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memberikan pertolongan dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Di antara bentuk nushroh (pertolongan) yang besar bagi saudara-saudara kita adalah dengan cara mendoakan mereka di setiap kesempatan, diantaranya adalah dengan qunût nâzilah.

Beberapa negeri Islam telah menegakkan dan melaksanakan qunût nâzilah. Beberapa hari lalu Syaikh Su’ûd Syuraim telah membacakan qunût nâzilah. Para ulama juga telah menfatwakan untuk memberikan pertolongan terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin yang tertindas dengan doa dan qunût nâzilah, diantaranya adalah al-Lajnah ad-Dâ`imah secara umum dan Syaikh ‘Abdul Karîm al-Khudair secara khusus. Majelis Ulama Indonesia, di dalam Pernyataan Sikapnya terhadap agresi Yahudi kepada kaum muslimin Palestina juga menyerukan pembacaan qunût nâzilah di setiap sholat wajib. (Sumber : http://www.mui.or.id/konten/berita/mui-tindak-tegas-israel)

Melihat begitu urgen dan diperlukannya pembahasan ini, terlebih masalah ini masih belum diketahui oleh sebagaian kaum muslimin, serta sebagai bentuk turut andil di dalam menyebarkan sunnah dan pembelaan terhadap kaum muslimin Palestina, maka saya turunkan seputar konsep qunût nâzilah yang benar –insyâ Allôh- menurut sunnah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam secara ringkas. Dengan memohon taufiq kepada Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ, saya memulai pembahasan ini :

Definisi Qunût Nâzilah

Qunût berasal dari kata qonata – yaqnutu – qunûtan (قنت يقنت قنوتا) yang berarti ta’at, merendahkan diri, patuh, berdiri dalam sholat, diam di dalam beribadah, do’a, tasbih dan khusyu’. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah do’a tertentu yang dilakukan sebelum ruku’ atau setelah ruku’

Nâzilah adalah bentuk mufrad (singular) dari nawâzil. Artinya adalah : “keadaan genting di masa yang penuh kesulitan” (lihat Kisyâful Qinâ’ : I/421).

Jadi, qunût nâzilah artinya adalah doa khusus yang dipanjatkan di saat sholat di saat kaum muslimin mengalami suatu musibah atau bencana, agar Allôh menolong dan memberikan kaum muslimin kemenangan, serta menghancurkan dan membinasakan kaum kafir yang telah berlaku aniaya kepada kaum muslimin.

Waktu dibacakannya qunût nâzilah

Qunût nâzilah disyariatkan untuk dibaca di setiap sholat lima waktu selama sebulan. Dalilnya adalah hadits-hadits nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan berturut-turut di waktu zhuhur, ashar, maghib, isya’ dan shubuh, di akhir waktu setiap sholat setelah beliau membaca sami’allâhu liman hamidahu pada rakaat terakhir untuk mendoakan keburukan bagi bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwân dan ‘Ushoyyah. Lalu makmum di belakang mengaminkannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albânî di dalam Shahih Sunan Abî Dâwûd 1443)

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (Muttafaq ‘Alaihi dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)

Qunût Nâzilah disyariatkan ketika ada sebab bencana

Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu menceritakan :

ثُمَّ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ فَقُلْتُ أُرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ قَالَ فَقِيلَ وَمَا تُرَاهُمْ قَدْ قَدِمُوا

“Kemudian aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan doa qunût setelah itu (setelah bencana tidak ada lagi). Lantas aku menyampaikan bahwa aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah meninggalkan do’a bagi kaum muslimin (yang teraniaya), dan ada orang bertanya, apakah Anda melihat bahwa mereka (yaitu al-Walîd dan rombongannya) telah tiba (di Madinah dengan selamat)” (HR Muslim)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

إنما قنت عند النوازل للدعاء لقوم، وللدعاء على آخرين، ثم تركه لما قدم من دعا لهم، وتخلصوا من الأسر

“Sesungguhnya qunût dilaksanakan ketika tertimpa bencana untuk mendoakan (keselamatan) bagi kaum muslimin dan mendoakan (kehancuran) bagi musuh-musuh mereka. Kemudian Nabi meninggalkan doa qunût setelah kaum muslimin mendapatkan keselamatan dan terbebas dari keburukan.” (Zâdul Ma’âd : I/272)

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

القنوت مسنون عند النوازل، وهذا القول هو الذي عليه فقهاء أهل الحديث، وهو المأثور عن الخلفاء الراشدي

“Qunût disunnahkan ketika tertimpa bencana. Dan ini merupakan pendapatnya ahli fikih dari kalangan ahli hadits, dan qunût ini ma’tsûr (ada riwayatnya) dari al-Khulafâ` ar-Râsyidîn” (Majmû’ al-Fatâwâ 23/108).

Qunût tidak hanya dilakukan di waktu Shubuh

Qunut tidak hanya dilakukan pada watu shubuh, namun waktu yang paling sering Rasulullah melakukan qunut di dalamnya adalah di waktu shubuh.

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فيشرع أن يقنت عند النوازل يدعو للمؤمنين ويدعو على الكفار في الفجر وغيرها من الصلوات، وهكذا كان عمر يقنت لما حارب النصارى بدعائه الذي فيه ( اللهم العن كفرة أهل الكتاب )

“Disyariatkan melakukan qunût nâzilah di kala tertimpa bencana, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan keburukan bagi kaum kuffar, baik di waktu shubuh atau waktu-waktu sholat lainnya. Beginilah ‘Umar tatkala beliau memerangi kaum nasrani, beliau melakukan qunût dan berdoa : “Ya Allôh, laknatlah kaum kafir ahli kitab”. (Majmû’ al-Fatâwâ 22/270).

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

وأكثر قنوته ـ يعني النبي صلى الله عليه وسلم ـ كان في الفجر

“Waktu qunût yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah pada waktu shubuh.” (Majmû’al- Fatâwâ : 22/269)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

وكان هديه صلى الله عليه وسلم القنوت في النوازل خاصة، وترْكَه عند عدمها، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها

“Petunjuk Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam melakukan qunût adalah mengamalkannya ketika ditimpa bencana secara khusus dan meninggalkannya ketika bencana sudah tidak ada. Beliau tidak mengkhususkannya hanya di waktu shubuh, namun waktu yang paling sering beliau melakukan qunût adalah di waktu shubuh.” (Zâdul Ma’âd : 1/273)

Kapankah dibacakan qunût nâzilah, sebelum atau setelah ruku’?

Telah tetap dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bahwa qunût dapat dilaksanakan sebelum atau setelah ruku’, walau yang paling sering dilakukan Nabi adalah setelah ruku’. Sebagaimana dalam riwayat-riwayat berikut :

عن أنس أنه سئل: أقنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في الصبح؟ قال: نعم، فقيل: أوقنت قبل الركوع أو بعد الركوع؟ قال: بعد الركوع يسيرا

Dari Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau ditanya : “Apakah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût di waktu shubuh?” Beliau menjawab, “iya”. Lantas beliau ditanya lagi : “Beliau melakukan qunût sebelum atau setelah ruku’?”. Beliau menjawab : “Setelah ruku’ dengan bacaan ringan.” (Muttafaq ‘alaihi)

عن أنس أنه سئل عن القنوت بعد الركوع أو عند الفراغ من القراءة؟ قال: لا بل عند الفراغ من القراءة.

Dari Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau ditanya tentang masalah qunût, apakah dilakukan setelah ruku’ ataukah setelah membaca al-Qur`ân (sebelum ruku’)? Beliau menjawab : “dilakukan setelah membaca al-Qur`ân.” (HR Bukhârî)

Anas Radhiyallâhu ‘anhu juga berkata :

كنا نقنت قبل الركوع وبعده

“Kami pernah melakukan qunût sebelum dan setelah ruku’”

Kesemua hadits di atas menunjukkan bahwa qunût boleh dilakukan sebelum atau setelah ruku’. Dan yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah melakukannya setelah ruku’.

Disyariatkannya melakukan Qunût Nâzilah secara ringan dan ringkas

Disunnahkan untuk tidak memperpanjang do’a qunût, dan mencukupkan dengan do’a-do’a yang inti saja, yaitu untuk menolong dan menyelamatkan kaum muslimin dari bencana dan do’a untuk menghancurkan dan menceraiberaikan kaum kuffar. Hal ini sebagaimana di dalam riwayat Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu ketika beliau ditanya :

هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Apakah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût di sholat shubuh?”

Beliau Radhiyallâhu ‘anhu menjawab :

نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

“Iya, setelah ruku dengan bacaan yang ringan.” (HR Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût dengan bacaan yang ringkas dan ringan, tidak memperpanjangnya.

Imam disunnahkan mengeraskan bacaan qunût dan makmum mengaminkannya

Sebagaimana di dalam hadits Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ» يَجْهَرُ بِذَلِكَ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam jika hendak berdoa mendoakan keburukan atau kebaikan bagi seseorang setelah rukû’, seringkali beliau mengucapkan setelah ucapan sami’allôhu liman hamidahu : Rabb kami, segala pujian hanyalah milik-Mu. Ya Allôh selamatkanlah al-Walîd bin al-Walîd, Salamah bin Hisyâm dan Ayyâsy bin Abî Rabî’ah. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf!” seraya mengeraskan bacaannya. (HR Bukhârî)

An-Nawawî rahimahullâhu berkata :

وحديث قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قُتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه كان يجهر به في جميع الصلوات، هذا كلام الرافعي. والصحيح أو الصواب استحباب الجهر

“Hadits tentang qunûtnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika terbunuhnya para qurrô` Radhiyallâhu ‘anhum, menunjukkan wajibnya bahwa beliau mengeraskan bacaan doanya di setiap waktu sholatnya, dan ini adalah pendapat ar-Rafi’î. Pendapat yang paling benar dan tepat adalah sunnah hukumnya mengeraskan bacaan.” (al-Majmû’ : 3/482)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://muslimunm.4umer.com
 
SEPUTAR QUNUT NAZILAH I
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Ukhuwah UNM :: Ad-Dienul Islam :: Artikel-
Navigasi: