Forum Ukhuwah UNM

Ajang untuk saling berbagi ilmu, taushiyah, curhat dan info masyarakat UNM makassar
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Radio Sunnah

Latest topics
» RAHASIA MUDAHNYA MENDAPATKAN MODAL UNTUK USAHA ATAU UNTUK BIAYA HIDUP
Mon Jul 15, 2013 5:09 pm by millantea

» надо похудеть на 15кг за 20дней
Thu Aug 04, 2011 9:04 pm by Tamu

» best fish oils supplements
Thu Aug 04, 2011 2:50 pm by Tamu

» Alabama Dept. of Public Health Proposes Civil Penalty Against Company For Failing To Properly Maintain Security, Accountability Of Radioactive Sources
Thu Aug 04, 2011 1:49 pm by Tamu

» Effects Of Ekg On Caffeine
Wed Aug 03, 2011 8:33 pm by Tamu

» generic name for ultram er
Wed Aug 03, 2011 4:30 pm by Tamu

» australia online casinos
Tue Aug 02, 2011 11:30 pm by Tamu

» sundown naturals fish oil
Tue Aug 02, 2011 10:37 pm by Tamu

» hotele polska 5 gwiazdek
Tue Aug 02, 2011 2:32 pm by Tamu

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 21 pada Sat Feb 05, 2011 7:12 am
Top posters
Admin
 
al_ghariby
 
erkawe
 
ikhwan_unm
 
ullahsultan
 
akhjafar
 
Salsabilah
 
abu uwais
 
najah
 
ibnu yahya
 
Kalender Hijriah
google salaf

Share | 
 

 SEPUTAR QUNUT NAZILAH (sambungan)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 73
Registration date : 13.01.09

PostSubyek: SEPUTAR QUNUT NAZILAH (sambungan)   Fri Jan 16, 2009 9:56 pm

Ibnu Hajar rahimahullâhu berkata :

وظهر لي أن الحكمة في جعل قنوت النازلة في الاعتدال دون السجود مع أن السجود مظنة الإجابة كما ثبت (أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد) وثبوت الأمر بالدعاء فيه أن المطلوب من قنوت النازلة أن يشارك المأموم الإمام في الدعاء ولو بالتأمين، ومن ثمَّ اتفقوا على أنه يجهر به

“Tampak padaku bahwa hikmah ditetapkannya qunût nâzilah di waktu i’tidâl bukan sujud, padahal sujud adalah saat dikabulkannya doa sebagaimana dalam hadits “keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah di saat sujudnya”, dan diperintahkan doa di dalamnya adalah, bahwa yang dituju dari dilaksanakannya qunût nâzilah adalah agar makmum dapat menyertai imam di dalam berdoa dan mengaminkannya. Oleh karena itulah, para ulama bersepakat untuk mengeraskan bacaan qunut.” (Fath al-Bârî : 2/570)

Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa qunût

Sebagaimana dalam hadits Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

“Aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sholat zhuhur mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi mereka (kaum kafir).” (HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Râfi’ beliau berkata :

صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقنت بعد الركوع، ورفع يديه، وجهر بالدعاء

“Aku pernah sholat di belakan ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallâhu ‘anhu dan beliau membaca qunût setelah ruku’ sembari mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan bacaan do’anya.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqî dalam Sunan al-Baihaqî 2/212 dan mengatakan keshahihannya dari ‘Umar).

Tidak mengusap wajah setelah qunût

Tidak ada satupun dalil yang shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengusap wajah setelah qunut atau berdoa. Semua hadits yang datang tentang mengusap wajah adalah hadits yang dha’if dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Al-Baihaqî Rahimahullâhu berkata :

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت، وإن كان يروى عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة، وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم حديث فيه ضعف. وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة، وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت، ولا قياس. فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق “

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa qunut, maka aku tidak menghapal ada satupun riwayat dari kaum salaf yang mengamalkannya ketika berdoa qunut. Walaupun ada riwayat dari sebagian mereka tentang mengusap wajah ketika berdoa di luar sholat. Juga diriwayatkan dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam tentang hal ini namun haditsnya dhaif. Hal ini diamalkan oleh sebagian mereka hanya di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka ini adalah amal yang tidak ada hadits dan atsar yang shahih menetapkannya, dan tidak pula qiyas. Yang lebih utama adalah tidak mengamalkan hal ini (mengusap wajah) dan mencukupkan dengan perbuatan salaf Radhiyallâhu ‘anhum yang mengangkat tangan mereka ketika sholat tanpa mengusap wajah. Wabillahi at-Taufîq.” (Sunan al-Baihaqî 2/212)

Imam Nawawî rahimahullâhu mengomentari :

وله ـ يعني البيهقي ـ رسالة مشهورة كتبها إلى الشيخ أبي محمد الجويني أنكر عليه فيها أشياء من جملتها مسحه وجهه بعد القنوت

“Baihaqî memiliki risalah yang terkenal yang ditulis kepada Syaikh Abu Muhammad al-Juwainî, beliau mengingkarinya dalam banyak hal, diantaranya tentang pendapatnya mengenai mengusap wajah setelah qunut.” (al-Majmû’ 3/480)

Ibnu Taimiyah Rahimahullâhu berkata :

وأما مسح وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث أو حديثان لا يقوم بهما حجة

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan, maka tidak ada dalilnya kecuali satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah.” (Majmû’ al-Fatâwâ 22/519)

Bolehkah mengamalkan qunût nâzilah tanpa izin ulil amri?

Tidak patut bagi imam masjid melaksanakan qunût melainkan setelah mendapatkan izin dari ulil amri (penguasa dan ulama). Karena qunûtnya imam masjid tanpa izin ulil amri dapat menimbulkan kekacauan. Apabila pintu ini dibuka, niscaya akan ada orang akan merasa bahwa sekarang sedang terjadi musibah besar dan sebagian lagi tidak. Semuanya menurut keyakinan dan pendapatnya masing-masing. Sehingga dampaknya muncul perselisihan dan pertikaian.

Sepatutnya dalam masalah-masalah besar yang berkaitan dengan umat, hendaknya dibicarakan dengan dengan para ulama, meminta bimbingan dan arahan mereka. Termasuk pula dalam masalah qunût nâzilah.

Mengamalkan qunût pada sholat jamâ’ah atau munfarid?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Al-Qôdhî dan Ibnu Taimiyah berpendapat bolehnya qunût pada sholat munfarid (al-Inshâf 2/175). Pendapat yang râjih dan terpilih dalam hal ini adalah, mengamalkan qunût hanya pada sholât jamâ’ah, bukan munfarid (sholat sendirian). Karena tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa qunût nâzilah pernah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabatnya pada sholat munfarid.

Bagaimana qunût pada sholat jum’at?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Bahkan beberapa ulama menjadikan masalah ini sebagai bab di dalam kitab-kitab mereka, seperti ‘Abdur Razzâq di dalam Mushonnaf-nya bab al-Qunût Yaum al-Jum’ah, Ibnu Abî Syaibah di dalam Mushonnaf-nya bab Fî Qunûti Yaum al-Jum’ah, Ibnul Mundzir di dalam al-Awsâth bab Dzikrul Qunût fî al-Jum’ah, dan kesemua ulama ini menyebutkan atsar para sahabat dan tabi’in yang meninggalkan qunût pada sholat Jum’at. Namun, tidak ada dalil yang jelas bahwa qunût yang ditinggalkan pada sholat Jum’at tersebut apakah qunût nâzilah atau bukan, sehingga penunjukan keharamannya tidak jelas.

Al-Mardâwî mengatakan bahwa qunût diamalkan di seluruh sholat wajib kecuali sholat Jum’at, dan ini adalah pendapat yang paling benar dari madzhabnya. Al-Majd di dalam Syarh-nya dan Ibnu ‘Abdûs di dalam Tadzkirah-nya menyatakan tentang pelaksanaan qunût di sholat Jum’at.

Yang râjih adalah tidak diamalkan qunût pada sholât Jum’at, karena tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan sahabat beliau melakukan qunût pada hari Jum’at. Hukum asal di dalam ibadah adalah terlarang, sampai ada dalil yang memalingkan larangannya.

Permasalahan ini, yaitu qunût di sholat munfarid dan sholat Jum’at, lebih memerlukan pembahasan lebih jauh lagi. Wallôhu a’lam.

Tidak ada lafazh atau bacaan khusus di dalam qunût nâzilah

Qunût Nâzilah tidak memiliki bacaan doa tertentu, bacaannya sesuai dengan keadaan bencana yang menimpa. Adapun bacaan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam : “Allôhummâ ihdinâ fîman hadaita…” dst, bacaan ini hanya dibaca Nabi di qunût witir saja. Tidak ada satupun dalil yang menyebutkan bahwa Nabi membaca doa ini pada qunût nâzilah.

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فالسنة أن يقنت عند النازلة ويدعو فيها بما يناسب القوم المحاربين

“Yang sunnah adalah melakukan qunût di kala tertimpa bencana, dengan membaca doa yang sesuai bagi kaum yang memerangi.” (Majmû’ Fatâwâ : 21/155)

Beliau rahimahullâhu juga berkata :

وينبغي للقانت أن يدعو عند كل نازلة بالدعاء المناسب لتلك النازلة.وإذا سمى من يدعو لهم من المؤمنين ومن يدعو عليهم من الكافرين المحاربين كان ذلك حسناً

“Sepatutnya bagi orang yang melakukan qunût untuk berdoa di kala tertimpa bencana dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut. Apabila menyebut nama kaum mukminin yang didoakan kebaikan atasnya dan menyebut nama kaum kuffar yang memerangi kaum muslimin yang didoakan keburukan bagi mereka, maka yang demikian ini lebih baik.”

Beliau rahimahullâhu berkata kembali :

“’Umar Radhiyallâhu ‘anhu melakukan qunût tatkala kaum muslimin ditimpa oleh bencana. Beliau berdoa di dalam qunût dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut, sebagaimana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika melakukan qunût pertama kali, beliau mendoakan keburukan bagi kabilah Bani Sulaim yang telah membunuh para pembaca al-Qur`an (Qurrô’), beliau mendoakan keburukan bagi mereka yang sesuai dengan tujuannya. Kemudian ketika Nabi melakukan qunût yang mendoakan keselamatan bagi para sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang tertindas, beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan tujuannya.

Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan al-Khulafâ` ar-Râsyidîn menunjukkan atas dua hal : Pertama, doa qunût itu disyariatkan ketika ada sebab yang mengharuskannya, bukan sunnah yang senantiasa diamalkan di dalam sholat. Kedua, doa di dalam qunût ini bukanlah doa yang sudah baku lafazhnya. Namun doa di dalam qunût itu sesuai dengan keadaan dan tujuannya. (Majmû’ Fatâwâ : 23/109)

Jadi, tidaklah mengapa apabila kita berdoa di dalam qunût dengan bacaan yang sesuai dengan keadaan di zaman ini dengan meniru ushlub (gaya bahasa) Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, seperti misalnya :

اللهم أنج إخواننا المسلمين في العراق وفلسطين وأفغانستان والشيشان وكشمير، اللهم انصرهم ، اللهم اشدد وطأتك على اليهود و النصارى والهندوس ومن شايعهم وأعانهم، اللهم العنهم اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف

“Ya Allôh, selamatkanlah saudara-saudara kita kaum muslimin di Iraq, Palestina, Afghanistan, Chechnya dan Kasymir. Ya Allôh tolonglah mereka. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada Yahudi, Nasrani, Hindu dan siapa saja yang menyokong dan menolong mereka. Ya Allôh laknatlah mereka dan turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf.”

Lafazh di atas serupa dengan lafazh bacaan doa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abû Hurairoh ketika beliau qunût mendoakan keselamatan bagi sahabat beliau yang teraniaya dan ditahan kaum kafir untuk berhijrah. Mereka disiksa, dilukai, dan diancam oleh kaum kafir ketika itu. Diantara mereka adalah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah, al-Walîd bin al-Walîd dan Salamah bin Hisyâm. Beliau ketika itu membaca :

اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

“Ya Allôh, selamatkanlah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah! Ya Allôh, selamatkanlah al-Walîd bin al-Walîd! Ya Allôh, selamatkanlah Salamah bin Hisyâm! Ya Allôh, selamatkanlah kaum mukminin yang tertindas. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf.” (HR Bukhârî).

Sungguh, meniru ushlub Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah lebih baik, walaupun membaca doa yang ushlub-nya berbeda namun sesuai dengan kondisi tidaklah mengapa.

Beberapa kekeliruan dalam masalah bacaan qunût

Ada beberapa kekeliruan di dalam masalah bacaan qunût yang perlu diluruskan, diantaranya :

1. Membaca doa Allôhummâ-hdinâ fîman hadaita dst. Hal ini hanya untuk qunût witr, bukan qunût nâzilah.

2. Melazimkan dan menyenantiasakan bacaan sholawat kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di akhir bacaan doa qunût. Hal ini tidak ada dalil dan tuntunannya dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Adapun riwayat yang ma’tsûr dari para sahabat tentang sholawat adalah pada bacaan qunût witir.

3. Membaca doa dengan konteks yang salah, seperti misalnya memintakan adzab kepada Yahudi dan kaum kuffar, ditutup dengan Ya Arhamar Râhimîn (wahai Dzat yang maha pengasih) atau semisalnya. Hal ini tidak benar sebab tawassul dengan sifat rahmah tidak sesuai dengan maksud doa untuk memberikan adzab dan kehancuran bagi kaum kuffar.

4. Memanjangkan doa dan berdoa keluar dari konteks nâzilah, seperti berdoa meminta suatu hal yang tidak ada kaitannya dengan bencana.

5. Makmum tidak mengangkat tangan dan mengaminkan bacaan qunut imam.

6. Mengusap wajah dengan telapak tangan setelah selesai membaca qunut.

Demikianlah risalah ringkas ini saya susun. Semoga dapat memberikan manfaat baik bagi diri penyusun sendiri, maupun kaum muslimin lainnya yang membacanya. Segala tegur sapa, nasehat masukan dan kritikan penyusun terima dengan lapang dada, dan jangan segan untuk mengingatkan penyusun apabila ada kesalahan atau kekurangan dari artikel di atas. Semoga Alloh Subhânahu wa Ta’âlâ segera mengangkat kezhaliman dan penindasan yang dialami saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi Palestina dan selainnya, dan menghancurkan serta memporakporandakan barisan kaum kafir yang memerangi kaum muslimin.

وبالله التوفيق، والحمد لله رب العلمين.

FROM: ABUSALMA.CO.CC
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://muslimunm.4umer.com
 
SEPUTAR QUNUT NAZILAH (sambungan)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Ukhuwah UNM :: Ad-Dienul Islam :: Artikel-
Navigasi: